Memperlakukan Informasi

Kemaren, saya menghadiri kelas di sebuah kafe. Topiknya tentang ‘kegaduhan di medsos‘. Bukan dari pembicara utama, saya memetik kalimat ini.

Saya mencernanya lebih dalam dan menarasikannya demikian: Katanya, kita belum memiliki ketrampilan mengolah informasi saat tsunami info menyerang.

Yang kita lakukan kemudian adalah memilih subjek apa yang kita suka. Mengeloninya dengan hasrat tinggi. Lalu dilegitimasi menjadi kebenaran (bagiku). Sampai di sini? Ternyata tidak. “Kebenanaran” ini dipaksakan ke orang lain untuk diterima.

memerlakukan informasi - kegaduhan medsos - Martin Walls - Freeimagescom
Gambar ilustrasi. (Sumber: Freeimages.com/martin Walls)

Berhenti sampai di sini? Tidak. Anak tangga naiknya masih ada. Dan mengerikan–karenanya saya tak ingin meneruskan.

Apa yang harus KITA lakukan? Saya tidak tahu. Kompetensi saya baru sampai pada apa yang bisa SAYA lakukan. Maafkan untuk ketidakmampuan saya memberi solusi bagi sejuta warga. Saya hanya punya harapan kecil, rodo magical koyok alam Disney, apabila saya tidur malam ini, saya bangun saat kalender sudah tiba di bulan Mei 2019.

Makasih Anomie Coffee🙏

*Penulis: Ang Tek Khun, Blogger Kompasiana yang tinggal di Yogyakarta